English Soccer News gives you the latest news about soccer match in Europe and UK. Enjoy!

Investor Asing vs Investor Domestik

poempm.me

Investor Asing vs Investor Domestik


Pada tahun 1977 sebuah instituis baru di bawah departemen keuangan yang bernama pelaksanaan pasar moda dibentuk dengan tujuan untuk merangsang pertumbuhan pasar modal Indonesia. Melalui beberapa langkah, pemerintah menarik para investor untuk ter­ jun ke pasar modal Indonesia dengan berbagai kemudahan. Misalkan, investor domestik yang membeli saham melalui pa­ sar modal tidak dikenakan pajak, baik itu pajak pendapatan atas capital gain, pajak dividen, maupun pajak kekayaan atas nilai saham. Tidak hanya melirik investor dalam negeri untuk merangsang pertumbuhan Pasar Modal Indonesia, pemerintah juga menerapkan beberapa langkah untuk menarik investor asing. Paket Desember 1987 dan Paket Deregulasi 1988 ­1990 dikeluarkan pemerintah untuk usaha pengembangan Pasar Modal Indonesia dan sekaligus membuka pintu bagi investor asing untuk masuk ke Bursa Efek di Indonesia.

Saat ini pasar modal Indonesia sudah memasuki umur 40 tahun sejak dibuka kembali tahun 1977. Umur saat ini bisa dibilang relatif masih muda bila dibandingkan dengan bursa efek negara lain, dan besar kemungkinan pasar mo­ dal Indonesia akan terus berkembang, mengingat Indonesia juga masih berstatus negara berkembang dan perekonomian Indonesia yang terus mengalami perbaikan. Makro ekonomi yang bagus tentu berpengaruh besar untuk mendorong pe­ ningkatan pasar modal. Sebab hal itu menjadi salah satu alasan yang mendasar bagi investor asing untuk menem­ patkan dananya di Indonesia. Melihat prospek yang bagus ini tentu akan menarik investor asing untuk menanamkan modalnya di pasar modal indonesia yang sudah menunjukkan perkembang yang lumayan bagus.

Saat ini pasar modal indonesia menjadi bursa dengan return tertinggi di dunia, indeks harga saham gabungan di bursa efek indonesia sudah bertumbuh 317%  pertumbuhan rata-rata pertahun sekitar 15% tanpa dividen Jika dengan dividen, CAGR pertumbuhan IHSG sekitar 22%. Dengan asumsi ini, IHSG akan menyentuh angka 25.000 pada tahun 2026. Dan sekitar 67 persen dari total emiten memi­ liki return investasi jauh di atas return deposito. Selain itu, beberapa saham emiten akan memiliki return investasi long term hingga di atas 40 persen.

Dengan peluang ini sangat disayangkan jika investor domestik tidak ikut memanfaatkan peluang yang besar di negaranya sendiri dan malah membiarkan investor asing yang menguasai negeri ini. Faktanya, keadaan pasar modal Indonesia saat ini masih sedikit sekali peminatnya. Sehingga bursa saham indonesia masih tertinggal dari beberapa negara lain, bahkan tertinggal dari negara tetangga kita.

Jumlah emitmen di bursa efek indonesia baru sekitar 517 perusahaan per desember 2015, dengan kapitalisasi pasar sekitar Us$372 miliar, maupun thailand dengan 623 emitmen dan kapitalisasi pasar US$369 miliar, Market cap BEI tersebut hanya sekitar 0,4 dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara itu, di Singapura sudah menembus 2,4x PDB, Malaysia 1,5x PDB, dan Thailand 1,1x PDB. Dari sisi jumlah investor juga masih sedikit, baru sekitar 450.000 orang atau 0,2% dari penduduk Indonesia yang jumlahnya 250 juta orang. Bandingkan dengan Thailand yang memiliki 974.000 investor atau 1,5% dari total penduduknya. Apa­ lagi dibandingkan Singapura yang mencapai 1 juta investor meski penduduknya jauh lebih sedikit.

Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa permasalahan, yakni pengetahuan yang minim mengenai bagaimana ber­ investasi di sektor jasa keuangan, khususnya di pasar modal. Edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat di daerah­daerah untuk mendapatkan calon investor adalah langkah yang harus dilakukan pemerintah supaya menambah kontribusi masyarakat nantinya ke pasar modal.

Pemerintah melalui campaign “Yuk Nabung Saham” diharapkan untuk terus mencetak investor­investor cerdas yang akan ikut serta membantu pertumbuhan pasar modal Indonesia.

Berdasarkan survei literasi keuangan yang dilakukan oleh OJK (2013), baru sekitar 21,84% masyarakat Indonesia yang benar­benar paham mengenai Lembaga Jasa Keuangan (LJK). Dan juga terungkapinformasi bahwa sektor perbankan masih mendominasi tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia. Sedangkan, tingkat literasi atas produk dan layan­ an di sektor pasar modal masih sangat rendah, hanya sekitar 4% dengan tingkat utilisasi kurang dari 1%. Karena masih kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai investasi di pasar modal, mereka lebih memilih untuk menabung atau berinvestasi di bank.

Terbukti jika dibandingkan dengan perbankan, pasar modal masih jauh tertinggal. Jumlah investor saham per Desember 2015 hanya sebanyak 433,607 investor atau sekitar 0,2% dari total penduduk Indonesia, dan jumlah sub rekening efek yang terdaftar di PT. KSEI hanya seba­ nyak 548.384 rekening. Sedangkan di perbankan, menurut Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), sebanyak 70 juta pen­ duduk Indonesia memiliki rekening di perbankan, dan total keseluruhan rekening yang terdaftar pada bank umum per Desember 2015 tercatat sebanyak 175.501.916 rekening.

Pertumbuhan jumlah investor di pasar modal Indonesia setahun terakhir mengalami kenaikan sebesar 19% dari 364.465 (per akhir Desember 2014) menjadi 433.607 (per 28 Desember 2015). Kenaikan tersebut merupakan kenaik­ an tertinggi sejak kewajiban penerapan kepemilikan Single Investor Identification (SID) diterapkan di pasar modal Indonesia pada 2012.

Walaupun jumlah investor sudah mengalami pertumbuhan sebesar 19%, pasar modal Indonesia bisa dikatakan belum stabil karena partisipasi investor domestik masih rendah. Hal ini wajar mengingat per akhir Desember 2015, kepemilikan investor asing atas porsi saham di Bursa Efek Indonesia mencapai 64% atau senilai 1.686 triliun lebih, se­ dangkan porsi kepemilikan investor domestik hanya sebesar 36% atau senilai 948 triliun lebih (KSEI, 2015). Akibatnya, investor asing seringkali membuat pasar saham bergejolak.

Investor asing saat ini masih mendominasi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), sehingga keuntungan investasi dari BEI sebagian besar hanya dinikmati oleh pengusaha asing. Se­ harusnya keuntungan itu dapat dinikmati oleh masyarakat atau investor lokal. Tapi karena masih minimnya pengetahuan masyarakat tentang pasar modal, dan masih melekatnya bu­ daya menabung di bank, sehingga keuntungan­keuntungan yang seharusnya bisa dinikmati masyarakat indonesia melalui bursa saham malah dinikmati oleh investor asing.

Dominasi investor asing juga menyebabkan bursa saham Indonesia rentan terhadap sentimen investor asing sehingga mengakibatkan adanya capital outflow atau alur modal ber­ alih ke luar negeri yang mengakibatkan gejolak pada bursa saham. Sehingga jika investor asing mencatatkan net sell (penjualan bersih) dalam perdagangan, kemungkinan besar indeks juga akan mengalami penurunan karena porsi ke­ pemilikan investor asing lebih besar dari investor domestik.

Berikut perkembangan pasar modal Indonesia dalam be­ berapa tahun ke belakang.

Dari tahun 2010 sampai 2015 kepemilikan aset di pasar modal indonesia dikuasai investor asing hampir 60% setiap tahunnya. Bisa kita lihat ketika terjadi net sell oleh investor asing maka akan terjadi penurunan di bursa saham. Pada tahun 2013 terjadi net sell sebesar 20 triliun lebih dan di tahun 2015 sebesar 22 triliun lebih, sehingga Indeks Harga Saham Gabungan mengalami penurunan, begitu juga dengan kapi­ talisasi pasar dan aset.

Untuk itu diperlukan keberadaan investor domestik agar bisa menjaga pasar saham tetap stabil dan kokoh. Basis investor lokal yang kuat akan mengurangi potensi pasar yang bergejolak karena sentimen­sentimen asing yang meng­ akibatkan investor asing bisa saja menarik dananya sewaktu­ waktu. Oleh sebab itu diharapkan masyarakat Indonesia lebih melek terhadap pasar modal, karena selain mendapat­ kan keuntungan dari berinvestasi, kita juga membantu pertumbuhan dan menstabilkan perekonomian Indonesia mela­ lui pasar modal dengan cara memperbanyak kepemilikan aset oleh investor domestik di pasar modal Indonesia. MARI BELI INDONESIA KITA KEMBALI!

poempm.me

0 Comment: